19/11/10

The Best Model in Our Life_Rasulullah_


[rezaervani] [ARTICLE] Rasulullah : His Longtime Servant

Shahid Khan
Sun, 18 May 2008 23:16:25 -0700
*His Longtime Servant*
In Makkah the home life of the Prophet (peace be upon him) was generally
comfortable, because his wife ensured that he had all what he wanted. She
was rich and conducted her own trade, sending her merchandise with the
traditional trade caravans the Quraysh used to send in summer and winter to
Syria and Yemen. When he emigrated to Madinah, he was not accompanied by any
servant. Khadeejah had died three years earlier, and the Prophet traveled
with only his close companion, Abu Bakr. For the first few months after
arriving in Madinah, the Prophet stayed in Abu Ayyub's home, where he was
served by people around him. He never asked any of them for anything.
One of the Ansars, the Prophet's companion from Madinah, felt that the
Prophet needed a personal servant. He took his stepson, Anas ibn Malik, to
the Prophet and told him:* "*Messenger of God! Anas is an intelligent lad.
Let him serve you." The Prophet accepted. This was the beginning of a
10-year association for Anas, who was then only 10 or 12 years of age. Anas
accompanied the Prophet to the last day of his blessed life, realizing that
he could not have hoped for a better position. The Prophet's household was
such that no servant was at the receiving end of any abuse, physical or
verbal.
As a young lad, Anas could be excused if at times he was negligent of what
was assigned to him. The Prophet once sent him on an errand, but on the way
he saw some of his friends playing. Joining them was so attractive, and the
boy could not resist. He forgot his errand and was fully engaged in the
play. Sometime later, he felt someone pulling him by his robe. Turning back,
he saw the Prophet beaming with a smile. He told him endearingly: 'Unays!
(This is a short form of Anas) Go where I sent you.' That was all the rebuke
Anas received on this occasion. We can imagine how masters react if they see
a servant playing in the street instead of attending to the business they
are told to do. Yet the Prophet just smiled and told Anas to do what he was
told.
This was the Prophet's attitude throughout his life, with all those who
served him. Anas reports: "I served the Prophet (peace be upon him) for ten
years, on his journeys and at home. He never said to me as much as 'Ugh!' He
never said about something I did, why I did so, nor did he ever say about
anything I left undone, why I did not do it. Never did he say to me that I
did something badly, nor did he ever criticise anything I did. If I
slackened in doing what he ordered, he never reproached me. If anyone of his
family criticised me, he would tell them: 'Leave him alone. Had it been
possible for that thing to happen, it would have happened.'" *(Related by
Al-Bukhari and Muslim).*
The Prophet was so kind to Anas and to his family. In fact, he used to visit
Anas' mother and aunt, and have a meal with them. His mother once asked the
Prophet to pray for Anas. He did, praying to God "to give him wealth and
children and to bestow His blessings on him." The mother was overjoyed with
this prayer, realizing that her son would have a good future because she was
well aware that whenever the Prophet prayed for anyone, God answered his
prayer in the best form. Indeed Anas later acquired wealth and he saw scores
of his children and grandchildren.
It is not surprising that an intelligent lad like Anas should be the source
of much of what we know about the Prophet's personal life. He was always
with him. Some visitors to Madinah remarked that they thought Anas and his
mother belonged to the Prophet's family, because of the frequency of their
entry into the Prophet's homes. Anas was one of the very few of the
Prophet's companions who reported around 2,000 Hadiths covering a wide range
of questions and issues.
That the Prophet should treat his servants well is not surprising. He was a
model of kindness. His mission is defined in the Qur'an as 'mercy for
mankind'. Servants are not a different human species. They are just like us,
and therefore, they should be always treated well. The Prophet frequently
urged his companions and his followers in future generations, to treat their
servants, and all vulnerable groups, well. He gave us the best practical
example in this regard, as indeed in all other aspects. One day, a maid in
his household neglected something he asked her to do. He was upset. Yet he
only said to her: "Had it not been for my fear of God's retribution, I would
have painfully hit you with this miswak." A miswak is a thin, short stick
used as a toothbrush. To hit someone with it will cause no pain. Yet the
Prophet says that he could be liable to God's retribution, should he use it
to punish that maid for her negligence. Could there be any better form of
education to all Muslims on how to treat servants and others who may be
subject to our authority?
Moreover, the Prophet expressed interest in the personal affairs of his
servants. He wanted them to have a comfortable life. One of them, Rabeeah
ibn Kaab used to stay close to him at night. He would bring him water for
ablution in the morning, and serve him throughout the day. When the Prophet
offered the last prayer of the day and went to his family, Rabeeah would
thoughtfully stay at his door. He would say: 'Something might happen and the
Prophet might need me.' He would only go to sleep when he realized that the
Prophet went to sleep.
The Prophet wanted to reward Rabeeah for such a thoughtful service. He asked
him whether he was in need of something. The man asked for nothing other
than to say: "I request you to pray that God will not put me to any
suffering in hell." Some reports suggest that he also said to the Prophet:
"I only hope to be with you in heaven." The Prophet said to him: "Then help
me to achieve that by frequently offering voluntary prayers." *(Related by
Muslim). *





Rasulullah : Pengabdian Panjangnya
Oleh Shahid Khan
*pengabdian panjangnya*
Tempat tinggal nabi Muhammad SAW di Mekkah begitu menyenangkan, karena istri Rasul yang dipastikan dapat memenuhi semua yang beliau inginkan. Dia adalah seseorang yang kaya raya dan memimpin perdagangannya sendiri, mengirimkan barang-barang dagangan melalui kafilah Quraisy menggunakan alat perdagangan tradisional yang dilakukan pada musim panas dan musim dingin ke Syiria dan Yaman. Ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau tidak di temani oleh abdi-abdinya. Khadijah meninggalkan nabi Muhammad tiga tahun lebih dulu dan nabi Muhammad menempuh perjalanan hanya dengan sahabat terdekatnya, yaitu Abu Bakar. Selama beberapa bulan pertama setelah tiba di Madinah, nabi Muhammad tinggal di rumah Abu Ayyub, dimana beliau telah dilayani dengan baik oleh masyarakat disekitarnya. Beliau tidak pernah meminta apapun dari mereka.
Salah seorang dari kaum Anshar, yang merupakan sahabat nabi Muhammad di Madinah merasakan bahwasanya Nabi membutuhkan seorang abdi pribadi. Oleh karena itu, Ia mengambil anak tirinya, yaitu Anas Ibn Malik untuk mendampingi nabi dan mengatakan kepada nabi: ”Rasul Utusan Allah! Anas adalah seorang anak laki-laki yang cerdas. Biarkan ia melayani keperluanmu.” Nabi pun menerimanya. Hal ini merupakan permulaan dari sepuluh tahun menjalin persahabatan dengan Anas, perbedaan umur diantara mereka hanya sekitar sepuluh sampai dua belas tahun. Suatu hari, Anas menemani nabi untuk mendoakan kehidupan Anas, menyadari hal itu, ia tidak berharap untuk mendapatkan posisi yang lebih baik. di dalam rumah tangga Rasulullah tak pernah ada pelayan/ abdi yang dicaci atau dihina, baik secara fisik ataupun secara ucapan.
Sebagai abdi laki-laki yang lebih muda, Anas akan memaafkannya jika pada suatu waktu ia lupa akan apa yang ditugaskan kepadanya. Suatu waktu Rasulullah menyuruhnya untuk menyampaikan pesan, akan tetapi dalam perjalanannya ia melihat beberapa temannya yang sedang bermain. Bergabung dengan mereka begitu menyenangkan dan laki-laki tersebut pun tak bisa menolaknya. Ia lupa akan suruhannya dan menikmati permainan tersebut. beberapa saat kemudian, ia merasa seseorang telah menariknya dengan jubah yang orang tersebut kenakan. Saat ia berbalik, ia melihat wajah Rasulullah yang berseri-seri dengan senyuman yang manis. Nabi berkata kepadanya dengan penuh kasih saying: “Unays! (ini adalah panggilan kecil untuk Anas) pergilah ke tempat yang telah ku beri tahu kepadamu.” Itulah omelan yang diterima Anas pada peristiwa tersebut. dapatkah kita membayangkan, bagaimana reaksi seorang tuan jika melihat seorang pelayan, bukannya menghadiri kepentingan yang telah ditugaskan kepadanya, malahan  bermain di jalanan. Mungkin Rasulullah hanya tersenyum dan menasehati Anas untuk melakukan apa yang telah ia perintahkan kepadanya.
Inilah sikap Rasulullah di sepanjang hidupnya, kepada semua orang yang telah melayaninya. Anas meriwayatkan: “Selama sepuluh tahun aku telah melayani Rasulullah SAW , baik dalam perjalanannya ataupun di rumahnya. Beliau tidak pernah berkata kepadaku kata-kata “Uh!” beliau tak pernah menegur atas apa yang kulakukan, mengapa aku melakukan hal itu, tidak pula beliau mengatakan  padaku bahwa aku telah melakukan sesuatu yang dibencinya, serta beliau tidak pernah mengkritik apapun yang kulakukan. Jika ada hal yang kurang dari pekerjaanku yang ia suruh, beliau tidak pernah menyalahkanku. Jika salah seorang di keluatganya mengkritikku, beliau akan mengatakan kepada mereka: “Biarkanlah, jika memang hal itu mungkin terjadi, maka hal itu pun akan terjadi,” (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
Rasulullah sangat ramah kepada Anas dan keluarganya. Pada kenyataannya, beliau pernah mengunjungi Ibu dan Bibi Anas, dan mereka menghidangkan makanan. Suatu waktu Ibunya meminta Rasulullah untuk mendoakan Anas. Maka Rasulullah pun mendo’akannya, Rasulullah memanjatkan doa kepada Allah “berikanlah kepadanya kesehatan dan dikaruniai anak, serta limpahkanlah rahmatMu kepadanya.” Begitu gembiranya sang ibu Anas dengan doa yang dipanjatkan, menyadari bahwa anak laki-lakinya akan memiliki masa depan yang baik karena ia sangat yakin bahwa kapanpun Rasulullah memanjatkan doa untuk siapa saja, Allah akan memberikan jawaban yang terbaik bagi setiap doanya. Sungguh setelah kejadian tersebut Anas dikaruniai kesehatan dan banyaknya cucu dari anak-anaknya.
Hal ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan bahwa seorang abdi laki-laki yang cerdas seperti Anas  sehatusnya menjadi sumber atas apa yang ia ketahui tentang kehidupan pribadi Rasulullah. Ia selalu bersama Rasulullah. Beberapa tamu yang datang ke Madinah berkata bahwa mereka berfikir Anas dan Ibunya termasuk kedalam keluarga Rasul, dikarenakan mereka sering berada di dalam rumah Rasulullah. Anas merupakan salah seorang dari beberapa sahabat nabi yang meriwayatkan dua ribu hadits yang meliputi pertanyaan dan kabar yang begitu banyak.
Oleh karena itu, tidak heran jikalau Rasulullah memperlakukan para abdinya dengan sangat baik. beliau adalah teladan yang sangat baik hati. Misinya adalah menegaskan bahwasanya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Semua abdi atau pelayan tidak ada bedanya dengan manusia lainnya. Mereka seperti kita, oleh karena itu mereka seharusnya diperlakukan dengan baik. sering kali nabi Muhammad meinta para sahabatnya dan umatnya di masa mendatang, agar memperlakukan dengan baik kepada pelayan-pelayan mereka dan semua kelompok yang mendapat kecaman. Ia memberikan contoh yang mulia, dalam semua aspek. Pada suatu hari, seorang pembantu di rumahnya melalaikan apa yang Rasulullah minta kepadanya untuk dilakukan. Ia telah melupakannya. Mungkin Brliau mengatakan kepada perempuan tersebut: “ hal ini dilakukan bukanlah ketakutanku terhadap Allah, aku akan memukulmu menggunakan miswak dengan penuh rasa sakit.” Miswak berbentuk ramping, dengan stick pendek yang  biasa digunakan sebagai sikat gigi.  Memukul seseorang dengan benda tersebut tidak akan menimbulkan rasa sakit. Mungkin Rasulullah berkata bahwasanya dia bertanggung jawab untuk dosa yang umatnya lakukan, seharusnya ia menggunakan benda itu untuk menghukum pembantu yang khilaf. Dari hal tersebut, dapatkah kita ambil pelajaran yang baik untuk semua umat muslim bagaimana cara untuk memperlakukan pelayan-pelayan ataupun yang lainnya yang menjadi subjek untuk kewenangan kita?
Selain iru, Rasulullah telah mengungkapkan hal menarik  dalam  urusan pribadi pada pembantunya. Beliau menginginkan mereka dapat hidup dengan nyaman. Salah satu dari mereka, Rabeeah Ibn Kaab yang tinggal pada malam hari. Ia membawakannya air untuk berwudhu pada pagi hari, dan melayaninya seharian penuh. Saat Rasulullah memanjatkan doa terkahitnya di hari tersebut, dan pergi kepada keluarganya, Rabeeah dengan bijaksananya menunggu di pintunya. Ia mengatakan: “sesuatu bisa saja terjadi dan Rasulullah bisa saja membutuhkanku.” Ia hanya akan pergi tidur, ketika ia tahu bahwa nabi telah tertidur.
Rasulullah ingin memberikan hadiah atas pelayanannya. Ia bertanya kepada Beliau apakah ia membutuhkan sesuatu. Laki-laki tersebut tak meminta apapun, namun hanya berkata: “aku memintamu untuk berdoa pada Allah yang akan mengangkatku dari penderitaan dalam neraka.” Beberapa riwayat menyatakan bahwa ia juga berkata bahwa ia berkata pada nabi bahwasany: “aku hanya berharap agar bisa masuk surga bersamamu.” Nabipun berkata padanya: “kemudian menolongku untuk mencapai hal tersebut dengan banyak memanjatkan doa ydengan  ikhlas . (diriwayatkan oleh Muslim)
Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar